Jalan Hidup Bersama Al Qur'an
MA’RIFATUL QUR’AN (Jalan Hidup Bersama Al Qur'an)
(oleh: Ustadzah Masyitoh)
A. DEFINISI AL QUR’AN
Al-Qur’an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Muhammad saw. diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah. Lebih lanjut akan diuraikan maksud dari definisi tersebut diatas.
1. Al-Qur’an adalah kalamullah
Hal ini memberikan pengertian bahwa al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenarannya yang ada di dalamnya adalah mutlak. (QS 53 : 4, 15 : 9)
2. Mukjizat
Mukjizat adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabiannya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya dapat dilihat dari keorisinilannya. Belasan abad sudah kitab ini tidak berubah meskipun hanya satu huruf, demikian hingga akhir jaman. Allah telah menjamin untuk menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa dan kandungannya.(QS 2:23, 11:14, 17:88)
3. Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw.
Keberadaannya sebagai wahyu yang diturunkan ke dalam hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberikan manfaat kalau interaksi dengannya merupakan interaksi qalbiyah [hati]. Initeraksi inilah yang akan menggerakkan hingga tercipta perubahan. Hubungan lisan akan menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan. (QS 26 : 192-195)
4. Diriwayatkan secara mutawatir
Informasi agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang yang adil [kredibilitas moral], sempurna hafalannya [kapabilitas], dan tidak mungkin sepakat bohong. Seluruh ayat-ayat al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian.
5. Membacanya merupakan ibadah
Karena ia adalah kalamullah, maka membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang. Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya. Semakin intens membacanya semakin meningkat keimanannya. Pahala besar akan diberikan oleh Allah pada mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam mimm bukan satu huruf, tapi tiga huruf.
B. NAMA-NAMA AL QUR’AN
Al-Qur’an memiliki sejumlah nama lain sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Qur’an itu sendiri. Masing-masing nama memberikan gambaran yang jelas mengenai fungsinya bagi kehidupan manusia.
Nama-nama al-Qur’an :
1. Al-Kitab, karena ia ditulis, diambil dari kata kataba [menulis]. Kitaab sama dengan maktuub berarti yang ditulis. Disamping dihafal oleh Rasulullah dan para hafidz, sejak awal al-Qur’an sudah ditulis oleh team pencatat al-Qur’an dari kalangan shahabat. hal itu dimaksudkan untuk menjamin keasliannya. Nama ini memberikan pesan agar kita membacanya. (QS 2:2)
2. -Huda [petunjuk] bagi orang-orang yang beriman. Bagi mereka, al-Qur’an adalah yang memberi komando. Bila al-Qur’an mengatakan mereka melakukannya, bila al-Qur’an mengatakan berhenti mereka berhenti. Sesungguhnya petunjuk Allah-lah yang sebenar-benar petunjuk. (QS 2:2, 185)
3. Al-Furqaan [pembeda] karena ia membedakan yang benar [haq] dengan yang batil. Al-Qur’an yang dibaca, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan akan membentuk kepribadian yang khas dengan identitas yang berbeda dengan seseorang yang tidak membaca al-Qur’an. Generasi pertama umat Islam dikatakan oleh sebagian penulis sebagai generasi al-Qur’an. Mereka adalah al-Qur’an yang berjalan, artinya kandungan al-Qur’an teraplikasi dalam keseharian mereka. (QS 25:1)
4. Ar-Rahmah [rahmat] karena keberadaannya merupakan wujud rahmat Allah bagi umat manusia. Dengan al-Qur’an, mereka tidak terhindar dari kebimbangan dalam mencari petunjuk. (QS 17:82)
5. An-Nuur [cahaya] karena ia menerangi jalan hidup manusia. Orang yang beriman menjadikannya sebagai obor penerang jalan hidup mereka agar tidak sesat. (QS 5:15-16)
6. Asy-Syifaa’ [obat] karena ia mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam dada. (QS 10:57)
7. Al-Haq [kebenaran] karena al-Qur’an adalah kebenaran haqiqi yang diturunkan dari Allah, al-haq kepada Nabi-Nya melalui malaikat Jibirl al-Amin dan sampai kepada kita melalui hadits-hadits mutawatir. (QS 2:147)
8. Al-Bayan [penjelasan] karena ia menjelaskan berbagai hal. Bahkan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan di kitab lain. (QS 3:138)
9. Al-Mau’izhah [nasehat] karena isinya merupakan nasehat-nasehat dan wejangan yang sangat berguna bagi umat manusia. (QS 3:138, 54:17, 54:22)
10. Adz-Dzikr [peringatan] karena ia memberikan peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat penolakan dan pendustaan yang mereka lakukan. (QS 15:9)
C. KEDUDUKAN AL-QUR’AN
Nama-nama tersebut menjelaskan tentang kedudukan al-Qur’an, antara lain sebagai:
1. Kitab berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib. (QS 78:1-2)
2. Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan. (QS 5 :49-50)
3. Kitab jihad karena ia menggelorakan semangan jihad dan menjadi panduan para mujahidin. (QS 29:69)
4. Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman. Mereka membaca, memahami dan mengamalkannya agar menjadi mukmin yang baik. (QS 3:79)
5. Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka. (QS 28:50)
6. Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai pengetahuan, mendorong, dan memberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan. (QS 96 :1-5)
D. KONSEKUENSI IMAN KEPADA AL QUR’AN
Iman kepada al-Qur’an menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Diantara konsekuensi-konsekuensi itu adalah:
1. Akrab dengan al-Qur’an. Seseorang dikatakan akrab dengan al-Qur’an apabila ia melakukan interaksi yang intens dengannnya. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain.( QS 2:121, 35:29) “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi:
a. Bacaannya. Membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj – tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik. (QS 2:121, 35:29)
b. Pemahamannya. Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami oleh para salafushalih melalui riwayat-riwayat yang shahih. Pemahaman kontekstual dapat juga dengan penalaran akal, asal tidak menyimpang dari riwayat, karena Nabi saw. dan para shahabatnya tentu lebih memahaminya. Merekalah yang mengalami masa turunnya wahyu itu. (QS 47 :24, 4:82, 38:29)
c. Penerapannya. Apa yang telah dipahami hendaklah diterapkan dalam kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. (QS 17:106)
d. Penghafalan dan penjagaannya. Ia menghafal al-Qur’an dan mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang. (QS 17:106)
2. Mendidik diri dengannya. Al-Qur’an memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan al-Qur’an. Bila berhasil, ia akan menjadi orang yang berkepribadian khas karena al-Qur’an dengan shibghah mewarnai seluruh dirinya secara utuh. (QS 3:79, 2:151)
3. Tunduk menerima hukum-hukumnya. Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah swt. Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Penolakan dan pembangkangan terhadap al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran. (QS 5 :44,45,47, 50 )
4. Mengajak [menyeru] orang kepadanya. Karena ia yakin bahwa al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menentramkan, maka ia pun mengajak orang lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Disamping itu karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah jamaatul muslimin yang solid.(QS 16:125 )
5. Menegakkannya di bumi. Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam konteks kehidupan sosial politik ia ditegakkan bersama dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan kenegaraan. (QS 42:13)
E. MANFAAT ALQUR’AN BAGI UMAT MANUSIA
Manfaat al-Qur’an bagi umat manusia sangat besar. Namun kenyataan menunjukkan bahwa al-Qur’an telah ditinggalkan bahkan oleh kaum Muslimin sendiri. Akibatnya umat manusia menghadapi berbagai problem yang tiada habis-habisnya. Dahulu yang meninggalkan dan melupakan al-Qur’an adalah orang munafik dari ahli kitab, namun kini kaum muslimin termasuk di dalamnya. Melupakan al-Qur’an sama halnya dengan menjauhkan diri dari fungsi dan manfaatnya, bahkan tidak menghormati kedudukannya. Akibatnya, akan mendatangkan berbagai bahaya yang disebut dalam al-Qur’an sendiri, di antaranya:
a. Kesesatan yang nyata. Hukum yang ada dalam al-Qur’an adalah petunjuk yang menyerahkan. Siapa yang tidak menggunakan al-Qur’an sebagai petunjuk berarti menggunakan selainnya. Padahal petunjuk yang sebenarnya adalah petunjuk Allah. (QS 4:60, 4:115)
b. Kesempitan dan kesesakan. Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, Allah akan melapangkan dadanya. Sebaliknya yang tidak mendapat petunjuk, dadanya akan terasam sempit menghimpit seakan naik ke ketinggian langit. (QS 6:125)
c. Kehidupan yang sempit. Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka kehidupannya psti akan penuh dengan masalah. Mengikuti petunjuk buatan manusia sama saja menjerumuskan diri dalam kepentingan berbagai pihak sehingga akan terombang-ambing di antara kepentingan-kepentingan itu. (QS 20:124)
d. Kebutaan mata hati. Mereka tidak dapat melihat kebenaran al-Qur’an bukan karena mata mereka buta. Kebutaan yang lebih parah adalah apabila mengenai hati. Orang yang mengalami kebutaan secara lahir mungkin saja mendapatkan kehidupan yang baik selama hatinya tidak buta. (QS 22:46)
e. Kekerasan hati. Di antara kemukjizatan al-Qur’an adalah kekuatannya meluluhkan hati sehingga orang yang kasar dan kaku pun menjadi lembut karenanya. Contoh yang sangat ekstrim adalah ‘Umar bin al-Khaththab ra. Saat amarah, kebencian dan permusuhannya berkobar-kobar justru beliau tersentuh oleh al-Qur’an yang sedang dibacakan. Tidak tersentuhnya hati oleh al-Qur’an adalah akibat sekat yang ada menjadikannya keras. Padahal bila sudah mengeras, hati lebih keras dibanding batu. (QS 57:16)
f. Kedhaliman dan kehinaan.Meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantikannya dengan kesesatan merupakan tindakan kedhaliman terhadap diri sendiri dan orang lain. Kedhaliman semacam ini akan menyebabkan hilangnya kehormatan sehingga orang akan hina di mata Allah dan di mata manusia. (QS 3:112, 32:22)
g. Menjadi teman setan. Setan akan menjadi sangat senang apabila manusia meninggalkan kitab suci Tuhannya. Karena mereka akan menjadi teman yang loyal kepadanya. (QS 43:36, 25:29)
h. Lupa diri. Akibat melupakan Allah, ia dilupakan Allah, padahal kepentingannya sangat tergantung pada Allah. Melupakan Allah sama dengan melupakan dirinya sendiri. Hal ini akan menimbulkan bahaya yaitu kefasikan dan kemunafikan. Semua itu mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. (QS 59:19)
Imam Ibnu Qayyim ra. dalam al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: memberi pengaruh [al-Qur’an itu sendiri], tempat yang menerimanya [hati yang hidup], dan tiada hal yang menghalang.
Secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bersikap sopan terhadap al-Qur’an. Hal ini diwujudkan dengan niat yang baik, kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati; mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya; kesucian jasmani dari najis; dan mengkhususkan pikiran bersama al-Qur’an.(QS 7:204)
2. Talaqqi dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu’; ta’zhim [pengagungan], dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
3. Memperhatikan tujuan asasi diturunkannya al-Qur’an. Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allah; untuk membentuk kepribadian yang Islami; memandu umat manusia; dan membentuk masyarakat Islami.
4. Mengikuti cara interaksi para shahabat ra. dengan al-Qur’an. Merekalah generasi terbaik. Mereka mencapai predikat ini karena interaksinya yang baik dengan al-Qur’an . cara mereka berinteraksi dengan al-Qur’an adalah:
a. Pandangan yang menyeluruh. Maksudnya bahwa mereka tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lainnya saling terkait. Pandangan yang parsial terhadap al-Qur’an akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi di antara ayat-ayatnya. Ini menyebabkan orang mengimani sebagian ayat dan mengkafiri sebagian lainnya. Padahal sikap yang demikian itu merupakan kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah saw. bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lain.
b. Memasuki al-Qur’an tanpa membawa persepsi, pemahaman, dan keyakinan masa lalu. Sikap demikian dilakukan agar apa yang dipahaminya dari al-Qur’an tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya.
c. Kepercayaan mutlak kepada al-Qur’an. Apa yang dikatakan al-Qur’an sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Dan apa yang dikatakan sebagai halal, mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan merekapun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berfikir mereka. Logikalah yang harus menyesuaikan dengan al-Qur’an, bukan sebaliknya.
d. Merasakan bahwa ayatnya [yang dibaca/ didengar] ditujukan kepadanya. Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung.
5. Tiada penghalang. Hal yang menghalangi terjadinya pengaruh al-Qur’an secara efektif adalah kesibukan hati dengan urusan lain; ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain al-Qur’an.
Wallohu’alam
(oleh: Ustadzah Masyitoh)
A. DEFINISI AL QUR’AN
Al-Qur’an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Muhammad saw. diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah. Lebih lanjut akan diuraikan maksud dari definisi tersebut diatas.
1. Al-Qur’an adalah kalamullah
Hal ini memberikan pengertian bahwa al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenarannya yang ada di dalamnya adalah mutlak. (QS 53 : 4, 15 : 9)
2. Mukjizat
Mukjizat adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabiannya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya dapat dilihat dari keorisinilannya. Belasan abad sudah kitab ini tidak berubah meskipun hanya satu huruf, demikian hingga akhir jaman. Allah telah menjamin untuk menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa dan kandungannya.(QS 2:23, 11:14, 17:88)
3. Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw.
Keberadaannya sebagai wahyu yang diturunkan ke dalam hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberikan manfaat kalau interaksi dengannya merupakan interaksi qalbiyah [hati]. Initeraksi inilah yang akan menggerakkan hingga tercipta perubahan. Hubungan lisan akan menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan. (QS 26 : 192-195)
4. Diriwayatkan secara mutawatir
Informasi agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang yang adil [kredibilitas moral], sempurna hafalannya [kapabilitas], dan tidak mungkin sepakat bohong. Seluruh ayat-ayat al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian.
5. Membacanya merupakan ibadah
Karena ia adalah kalamullah, maka membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang. Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya. Semakin intens membacanya semakin meningkat keimanannya. Pahala besar akan diberikan oleh Allah pada mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam mimm bukan satu huruf, tapi tiga huruf.
B. NAMA-NAMA AL QUR’AN
Al-Qur’an memiliki sejumlah nama lain sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Qur’an itu sendiri. Masing-masing nama memberikan gambaran yang jelas mengenai fungsinya bagi kehidupan manusia.
Nama-nama al-Qur’an :
1. Al-Kitab, karena ia ditulis, diambil dari kata kataba [menulis]. Kitaab sama dengan maktuub berarti yang ditulis. Disamping dihafal oleh Rasulullah dan para hafidz, sejak awal al-Qur’an sudah ditulis oleh team pencatat al-Qur’an dari kalangan shahabat. hal itu dimaksudkan untuk menjamin keasliannya. Nama ini memberikan pesan agar kita membacanya. (QS 2:2)
2. -Huda [petunjuk] bagi orang-orang yang beriman. Bagi mereka, al-Qur’an adalah yang memberi komando. Bila al-Qur’an mengatakan mereka melakukannya, bila al-Qur’an mengatakan berhenti mereka berhenti. Sesungguhnya petunjuk Allah-lah yang sebenar-benar petunjuk. (QS 2:2, 185)
3. Al-Furqaan [pembeda] karena ia membedakan yang benar [haq] dengan yang batil. Al-Qur’an yang dibaca, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan akan membentuk kepribadian yang khas dengan identitas yang berbeda dengan seseorang yang tidak membaca al-Qur’an. Generasi pertama umat Islam dikatakan oleh sebagian penulis sebagai generasi al-Qur’an. Mereka adalah al-Qur’an yang berjalan, artinya kandungan al-Qur’an teraplikasi dalam keseharian mereka. (QS 25:1)
4. Ar-Rahmah [rahmat] karena keberadaannya merupakan wujud rahmat Allah bagi umat manusia. Dengan al-Qur’an, mereka tidak terhindar dari kebimbangan dalam mencari petunjuk. (QS 17:82)
5. An-Nuur [cahaya] karena ia menerangi jalan hidup manusia. Orang yang beriman menjadikannya sebagai obor penerang jalan hidup mereka agar tidak sesat. (QS 5:15-16)
6. Asy-Syifaa’ [obat] karena ia mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam dada. (QS 10:57)
7. Al-Haq [kebenaran] karena al-Qur’an adalah kebenaran haqiqi yang diturunkan dari Allah, al-haq kepada Nabi-Nya melalui malaikat Jibirl al-Amin dan sampai kepada kita melalui hadits-hadits mutawatir. (QS 2:147)
8. Al-Bayan [penjelasan] karena ia menjelaskan berbagai hal. Bahkan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan di kitab lain. (QS 3:138)
9. Al-Mau’izhah [nasehat] karena isinya merupakan nasehat-nasehat dan wejangan yang sangat berguna bagi umat manusia. (QS 3:138, 54:17, 54:22)
10. Adz-Dzikr [peringatan] karena ia memberikan peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat penolakan dan pendustaan yang mereka lakukan. (QS 15:9)
C. KEDUDUKAN AL-QUR’AN
Nama-nama tersebut menjelaskan tentang kedudukan al-Qur’an, antara lain sebagai:
1. Kitab berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib. (QS 78:1-2)
2. Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan. (QS 5 :49-50)
3. Kitab jihad karena ia menggelorakan semangan jihad dan menjadi panduan para mujahidin. (QS 29:69)
4. Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman. Mereka membaca, memahami dan mengamalkannya agar menjadi mukmin yang baik. (QS 3:79)
5. Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka. (QS 28:50)
6. Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai pengetahuan, mendorong, dan memberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan. (QS 96 :1-5)
D. KONSEKUENSI IMAN KEPADA AL QUR’AN
Iman kepada al-Qur’an menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Diantara konsekuensi-konsekuensi itu adalah:
1. Akrab dengan al-Qur’an. Seseorang dikatakan akrab dengan al-Qur’an apabila ia melakukan interaksi yang intens dengannnya. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain.( QS 2:121, 35:29) “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi:
a. Bacaannya. Membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj – tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik. (QS 2:121, 35:29)
b. Pemahamannya. Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami oleh para salafushalih melalui riwayat-riwayat yang shahih. Pemahaman kontekstual dapat juga dengan penalaran akal, asal tidak menyimpang dari riwayat, karena Nabi saw. dan para shahabatnya tentu lebih memahaminya. Merekalah yang mengalami masa turunnya wahyu itu. (QS 47 :24, 4:82, 38:29)
c. Penerapannya. Apa yang telah dipahami hendaklah diterapkan dalam kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. (QS 17:106)
d. Penghafalan dan penjagaannya. Ia menghafal al-Qur’an dan mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang. (QS 17:106)
2. Mendidik diri dengannya. Al-Qur’an memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan al-Qur’an. Bila berhasil, ia akan menjadi orang yang berkepribadian khas karena al-Qur’an dengan shibghah mewarnai seluruh dirinya secara utuh. (QS 3:79, 2:151)
3. Tunduk menerima hukum-hukumnya. Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah swt. Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Penolakan dan pembangkangan terhadap al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran. (QS 5 :44,45,47, 50 )
4. Mengajak [menyeru] orang kepadanya. Karena ia yakin bahwa al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menentramkan, maka ia pun mengajak orang lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Disamping itu karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah jamaatul muslimin yang solid.(QS 16:125 )
5. Menegakkannya di bumi. Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam konteks kehidupan sosial politik ia ditegakkan bersama dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan kenegaraan. (QS 42:13)
E. MANFAAT ALQUR’AN BAGI UMAT MANUSIA
Manfaat al-Qur’an bagi umat manusia sangat besar. Namun kenyataan menunjukkan bahwa al-Qur’an telah ditinggalkan bahkan oleh kaum Muslimin sendiri. Akibatnya umat manusia menghadapi berbagai problem yang tiada habis-habisnya. Dahulu yang meninggalkan dan melupakan al-Qur’an adalah orang munafik dari ahli kitab, namun kini kaum muslimin termasuk di dalamnya. Melupakan al-Qur’an sama halnya dengan menjauhkan diri dari fungsi dan manfaatnya, bahkan tidak menghormati kedudukannya. Akibatnya, akan mendatangkan berbagai bahaya yang disebut dalam al-Qur’an sendiri, di antaranya:
a. Kesesatan yang nyata. Hukum yang ada dalam al-Qur’an adalah petunjuk yang menyerahkan. Siapa yang tidak menggunakan al-Qur’an sebagai petunjuk berarti menggunakan selainnya. Padahal petunjuk yang sebenarnya adalah petunjuk Allah. (QS 4:60, 4:115)
b. Kesempitan dan kesesakan. Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, Allah akan melapangkan dadanya. Sebaliknya yang tidak mendapat petunjuk, dadanya akan terasam sempit menghimpit seakan naik ke ketinggian langit. (QS 6:125)
c. Kehidupan yang sempit. Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka kehidupannya psti akan penuh dengan masalah. Mengikuti petunjuk buatan manusia sama saja menjerumuskan diri dalam kepentingan berbagai pihak sehingga akan terombang-ambing di antara kepentingan-kepentingan itu. (QS 20:124)
d. Kebutaan mata hati. Mereka tidak dapat melihat kebenaran al-Qur’an bukan karena mata mereka buta. Kebutaan yang lebih parah adalah apabila mengenai hati. Orang yang mengalami kebutaan secara lahir mungkin saja mendapatkan kehidupan yang baik selama hatinya tidak buta. (QS 22:46)
e. Kekerasan hati. Di antara kemukjizatan al-Qur’an adalah kekuatannya meluluhkan hati sehingga orang yang kasar dan kaku pun menjadi lembut karenanya. Contoh yang sangat ekstrim adalah ‘Umar bin al-Khaththab ra. Saat amarah, kebencian dan permusuhannya berkobar-kobar justru beliau tersentuh oleh al-Qur’an yang sedang dibacakan. Tidak tersentuhnya hati oleh al-Qur’an adalah akibat sekat yang ada menjadikannya keras. Padahal bila sudah mengeras, hati lebih keras dibanding batu. (QS 57:16)
f. Kedhaliman dan kehinaan.Meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantikannya dengan kesesatan merupakan tindakan kedhaliman terhadap diri sendiri dan orang lain. Kedhaliman semacam ini akan menyebabkan hilangnya kehormatan sehingga orang akan hina di mata Allah dan di mata manusia. (QS 3:112, 32:22)
g. Menjadi teman setan. Setan akan menjadi sangat senang apabila manusia meninggalkan kitab suci Tuhannya. Karena mereka akan menjadi teman yang loyal kepadanya. (QS 43:36, 25:29)
h. Lupa diri. Akibat melupakan Allah, ia dilupakan Allah, padahal kepentingannya sangat tergantung pada Allah. Melupakan Allah sama dengan melupakan dirinya sendiri. Hal ini akan menimbulkan bahaya yaitu kefasikan dan kemunafikan. Semua itu mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. (QS 59:19)
Imam Ibnu Qayyim ra. dalam al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: memberi pengaruh [al-Qur’an itu sendiri], tempat yang menerimanya [hati yang hidup], dan tiada hal yang menghalang.
Secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bersikap sopan terhadap al-Qur’an. Hal ini diwujudkan dengan niat yang baik, kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati; mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya; kesucian jasmani dari najis; dan mengkhususkan pikiran bersama al-Qur’an.(QS 7:204)
2. Talaqqi dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu’; ta’zhim [pengagungan], dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
3. Memperhatikan tujuan asasi diturunkannya al-Qur’an. Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allah; untuk membentuk kepribadian yang Islami; memandu umat manusia; dan membentuk masyarakat Islami.
4. Mengikuti cara interaksi para shahabat ra. dengan al-Qur’an. Merekalah generasi terbaik. Mereka mencapai predikat ini karena interaksinya yang baik dengan al-Qur’an . cara mereka berinteraksi dengan al-Qur’an adalah:
a. Pandangan yang menyeluruh. Maksudnya bahwa mereka tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lainnya saling terkait. Pandangan yang parsial terhadap al-Qur’an akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi di antara ayat-ayatnya. Ini menyebabkan orang mengimani sebagian ayat dan mengkafiri sebagian lainnya. Padahal sikap yang demikian itu merupakan kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah saw. bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lain.
b. Memasuki al-Qur’an tanpa membawa persepsi, pemahaman, dan keyakinan masa lalu. Sikap demikian dilakukan agar apa yang dipahaminya dari al-Qur’an tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya.
c. Kepercayaan mutlak kepada al-Qur’an. Apa yang dikatakan al-Qur’an sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Dan apa yang dikatakan sebagai halal, mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan merekapun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berfikir mereka. Logikalah yang harus menyesuaikan dengan al-Qur’an, bukan sebaliknya.
d. Merasakan bahwa ayatnya [yang dibaca/ didengar] ditujukan kepadanya. Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung.
5. Tiada penghalang. Hal yang menghalangi terjadinya pengaruh al-Qur’an secara efektif adalah kesibukan hati dengan urusan lain; ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain al-Qur’an.
Wallohu’alam
Comments
Post a Comment